Kita aka melihat bagaimana informasi menjadi kekuatan yg luar biasa. Seseorang/organisasi dapat berkuasa karena memiliki informasi yang orang lain tidak punya.
Freakonomics menceritakan sebuah kisah di awal abad ke-20, KKK (organisasi rasis Ku Klux Klan) menggunakan simbol, sandi, dan rahasia untuk menebar ketakutan dan kekuasaan sosial. Tak seorang pun tahu siapa anggotanya, apa rencananya, atau bagaimana cara bergabung — dan justru karena itu, mereka ditakuti.
Namun ketika seorang penyiar radio bernama Stetson Kennedy menyusup dan membocorkan semua rahasia mereka ke publik, kekuatan KKK runtuh.
Mengapa? Karena kekuatan tanpa rahasia kehilangan taringnya. Jadi, informasi adalah seperti mata uang kekuasaan.
Sepertinya hal ini akan relate juga dalam dunia pertanian, dan yg pasti terasa akrab di telinga kita. Dimana banyak petani kecil tidak tahu harga pasar sebenarnya, spesifikasi pupuk, atau margin distribusi. Kenapa begitu? Karena informasi ini dipegang oleh tengkulak, pedagang besar, atau pabrikan.
Akibatnya, asimetri informasi menciptakan ketimpangan kekuasaan.
Solusinya? Transparansi. Platform digital pertanian, IoT, dan sistem data terbuka bisa menjadi “Stetson Kennedy” yang menembus rahasia harga dan memperkuat posisi petani.
Begitupun dalam dakwah, pesan yang sama relevan: banyak orang tersesat bukan karena menolak kebenaran, tapi karena informasi kebenaran dikunci oleh sistem yang lebih berkuasa dgn sistem imun (baca: sistem sekulerisme kapitalisme yg sdg mencengkram negeri² muslim saat ini).
Maka tugas da’i bukan hanya menyampaikan, tapi membuka informasi yang disembunyikan, dan membongkar kebobrokan sistem mereka. Jika masyarakat tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam sistem ekonomi, politik, atau kekuasaan; maka mereka akan lebih mudah melihat kebenaran. [AT]

No comments:
Post a Comment