Freakonomics: What Do Schoolteachers and Sumo Wrestlers Have in Common? (Part 2)


Kita masuk ke bagia pertama dari buku #Freakonomics . Ada hal yg unik di bagian pertama ini, dimana Freakonomics membuka perjalanan dengan pertanyaan unik: apa kesamaan antara guru sekolah dan pegulat sumo? Sekilas tak ada hubungan — kalo kata anak sekarang "jaka sembung bawa golok, gak nyambung ****ok" . Gimana gak nyambung, yg satu bekerja di ruang kelas, satunya di arena bertarung. Namun Levitt dan Dubner mengajak kita melihat dengan kacamata baru: keduanya hidup dalam sistem insentif yang dapat menggoda untuk curang. Oke kita lihat ceritanya.



Cerita Guru yang Mencontek

Levitt meneliti ribuan hasil ujian di sekolah Chicago. Ketika gaji dan reputasi guru ditentukan oleh nilai ujian murid, ia menemukan pola aneh: beberapa lembar jawaban menunjukkan pola benar-salah yang tak wajar. Artinya, sebagian guru membantu muridnya mencontek agar terlihat “berhasil”.

Bukan karena mereka jahat — melainkan karena insentif yang salah arah. Ketika sistem penghargaan lebih menilai hasil, bukan proses, manusia cenderung menyesuaikan perilakunya agar sesuai target, meski dengan cara keliru.

Pegulat Sumo dan Etika Kompetisi

Hal serupa terjadi di dunia sumo Jepang. Statistik menunjukkan pegulat yang berada di posisi “hidup-mati” (7 menang, 7 kalah) lebih sering menang dari lawan yang sudah aman di peringkat (8 menang). Setelah posisi aman, banyak lawan “mengalah” demi menjaga hubungan timbal balik — praktik yang di luar aturan, tapi dianggap “normal”.
Levitt menunjukkan bahwa moralitas seringkali kalah oleh tekanan insentif sosial dan ekonomi.

Kedua cerita ini mengajarkan hal sama: jika ingin memahami perilaku manusia, jangan lihat kata-kata mereka, lihat insentif/motivasi di belakangnya. Manusia bukan selalu makhluk rasional sempurna; mereka menyeimbangkan moralitas dengan manfaat. Ketika sistem memberikan insentif yang tidak selaras dengan kebenaran, maka kebohongan bisa jadi rasional.

Refleksi untuk Dunia Pertanian & Dakwah

Catatan refleksi Agritusi tentang hal ini.... kalau dalam dunia pertanian modern, fenomena ini nyata. Sebagai contoh, petani yang diminta melaporkan data hasil panen, penyuluh yang dikejar target program, atau distributor pupuk yang menekan margin — semua berada dalam jaring insentif. Bila sistem penghargaan dan hukuman tak adil, perilaku manipulatif bisa muncul, bukan karena niat jahat, tetapi karena struktur sistem mendorongnya.

Maka dalam membangun sistem irigasi, program bantuan, atau kebijakan pangan, kita harus menata insentif yang sehat — yang membuat kejujuran lebih menguntungkan daripada kecurangan.

Bagi dunia dakwah, bab ini mengajarkan kita bahwa manusia sering jatuh bukan karena tak tahu yang benar, tapi karena insentif batin dan sosialnya lebih kuat ke arah lain.

Maka tugas dakwah bukan sekadar menyampaikan benar-salah, tapi membangun sistem nilai yang membuat bukan sekedar ketaatan individu, tetapi juga ketaatan masyarakat secara menyeluruh yg terasa menguntungkan bagi hati dan kehidupan ini. Inilah pentingnya dakwah pemikiran dan iedologis untum perubahan masyarakat yg total demi melanjutkan kehidupan Islam. [AT]

You may like these posts:

No comments:

Post a Comment